Rupiah nasibmu kini… kapan bisa beli rumah ya?

Seperti yang saya baca pagi ini, nilai tukar rupiah saat ini tidak terkendali,

rupiah lesu beli rumah murah

Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS lemah ke tingkat Rp14.200 pada Selasa pagi, yang dipicu oleh spekulasi yang dibuat oleh pelaku pasar.

Spekulasi adalah dalam menanggapi harapan dari US Federal Reserve (Fed) menaikkan suku bunga, Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro mengatakan pada hari Selasa.

Fed diharapkan untuk menaikkan suku bunga setelah negara melaporkan data peningkatan Ketenagakerjaan, tambahnya.

“Akhir-akhir ini, semua pihak berspekulasi di pasar mata uang karena jumlah pengangguran di Amerika Serikat telah menurun. Banyak orang telah berspekulasi bahwa Amerika Serikat akan menaikkan suku bunga segera,”katanya pada hari Selasa.

Spekulasi, menurut Brodjonegoro, juga telah ditingkatkan seperti pasar yang diharapkan bahwa kenaikan suku bunga FBI akan diwujudkan pada paruh kedua tahun 2015.

“Ini adalah spekulasi murni,” katanya.

Menurut Brodjonegoro, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) telah mengadopsi langkah-langkah untuk mengurangi dampak negatif dari ketidakpastian ekonomi global di pasar keuangan rumah tangga.

Diantara langkah-langkah ini adalah memastikan bahwa reformasi struktural di Lanjutkan ekonomi. Selain itu, menjaga cadangan devisa (forex) di tingkat yang aman, atau setidaknya menggunakan mereka selama enam bulan senilai barang impor.

Pemerintah juga telah merumuskan kebijakan ekonomi baru yang akan diumumkan pada hari Rabu, dengan salah satu dari mereka yang berkaitan dengan sektor keuangan dan fiskal.

BI juga melaporkan bahwa forex cadangan hingga Agustus 2015 berjumlah US$ 105.34 miliar.

Namun, nilai tukar tidak sembuh sepanjang hari pada hari Selasa. Berdasarkan nilai tukar Rupiah yang diperdagangkan di PUAB pada Selasa sore, Rupiah dilemahkan oleh 10 poin untuk Rp14.276 dari Selasa pagi di Rp14.266 per U.S. dolar.

“Melemahnya mata uang di negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia, terus. Pasar masih mencerminkan keengganan untuk mata uang berisiko yang mengikuti kemungkinan menaikkan suku bunga Fed,”kepala Monex Investindo Futures penelitian, Ariston Tjendra mengatakan.

Tjendra menambahkan bahwa keengganan untuk risiko aset oleh peserta pasar domestik adalah sesuai dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi di Indonesia, yang masih diharapkan untuk memperlambat, dengan demikian peredupan minat investasi terhadap aset domestiknya.

“Kegiatan ekonomi masih agak lamban, menurunkan potensi investasi Indonesia. Diharapkan bahwa kebijakan-kebijakan yang dirumuskan oleh pemerintah akan mendorong sektor ekonomi domestik,”katanya

 

Gimana menurut kamu semua?